Posted by: untoro | July 18, 2006

Kecerdasan Emosional

Apa yang Anda lakukan saat anak Anda menjatuhkan gelas kesayangan Anda yang sedang dipegangnya yang kemudian pecah berkeping-keping? Atau mungkin saat dia melihat tanaman-tanaman yang Anda miliki sebagai mainan yang menarik dan kemudian mencabutinya satu-persatu?Dalam sepersekian detik…apa yang Anda rasakan?Marah? Gusarkah? Bisa jadi…mungkin saja.

Salahkah? Wajar…sangat manusiawi.

Dalam sepersekian detik pula…respon atau tindakan apa yang Anda lakukan?
Berteriak? Membentak? Segera mengamankannya dari pecahan dan tanaman-tanaman berduri?
Dalam sepersekian detik itulah Anda diberi kesempatan dan kebebasan memilih respon atau tindakan yang akan Anda ambil.

Apakah marah, menangis, mengumpat itu selalu respon yang buruk? Tidak…tergantung pada situasi dan keadaan yang sedang dihadapi.

Untuk menghindari kecurigaan, seorang yang tertangkap basah berbuat kejahatan mungkin memberi respon marah pada orang yang menuduhnya. Syukur-syukur dengan begitu dia bisa menguasai keadaan dan kabur dengan santai. Rasanya lebih baik, daripada ia langsung lari, diteriaki maling, kemudian dipukuli massa😛.Apakah waktunya selalu sesingkat itu? Hanya sepersekian detik? Umumnya ya!

Kira-kira itulah yang saya tangkap mengenai kecerdasan emosional – emotional intellegence. Untuk definisi yang dikeluarkan dari para ahli, yang memang ahlinya, Anda dapat lihat di sini.

Kenapa saya menulis ini?

Terus terang saya penasaran, apa jadinya tim Inggris di piala dunia jika Wayne Rooney tidak mendorong saat Cristiano Ronaldo ngomporin wasit. Apakah Itali tetap menjadi pemenang piala dunia jika Zidane tidak melakukan headbutt? Penasaran? Sama…😛

Tapi yang membuat saya ingin segera menulis ini setelah saya membaca kisah yang ditulis bapak Bahtiar di blog-nya. Kisah perjuangan seorang Nabi, seorang Rasul, yang juga seorang manusia biasa. Yang memiliki perasaan, emosi, dan hawa nafsu. Kisah saat beliau beristirahat, terluka, letih, setelah dilempari batu, pasir, dicaci maki:

Ketika keduanya selesai beristirahat di kebun itu dan kemudian meneruskan perjalanan kembali ke Mekah, datanglah malaikat Jibril diiringi malaikat penjaga gunung.

“Ya, Rasulullah!” kata Jibril. “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan kaummu dan penolakan mereka kepadamu. Dia telah mengutus malaikat penjaga gunung supaya engkau perintahkan kepadanya apa yang engkau kehendaki atas kaum Bani Tsaqif itu.”

“Ya, Rasulullah,” sahut malaikat penjaga gunung. “Jika engkau mau supaya aku melipatkan kedua gunung yang besar ini di atas mereka, niscaya akan aku lakukan.”

“Bahkan aku berharap mudah-mudahan Allah memberikan kepada mereka keturunan yang menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.”, demikian jawaban Rasulullah Muhammad SAW.

Subhanallah…

Apa yang Anda lakukan…yang Anda katakan…atau yang Anda perintahkan…sepersekian detik dalam posisi seperti itu?

Wallahu’alam


Responses

  1. Jadi teringat saat salah seorang atasanku membentak seseorang dan mengusir orang tersebut dari suatu tempat. Saat itu semua orang sempat kaget melihat kondisi itu. Namun dalam hitungan detik, buldozer yang berada dalam pengawasan orang tersebut melorot dan bergeser ke arah posisi orang tersebut.
    Hanya hitungan detik.
    Bayangkan jika bukan bentakan, hanya sebuah permintaan, belum tentu orang tersebut mau bergeser.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: