Posted by: untoro | December 7, 2006

Anak-anak Karbitan

Artikel menarik ini saya dapat dari salah satu mailing list yang saya ikuti. Mengenai pendidikan yang dipaksakan, melampaui fitrah anak.

Mengingatkan saya pada posting Learning is a journey, not a race.

ANAK-ANAK KARBITAN

*Oleh Dewi Utama Faizah*) *
**
**) Dewi Utama Faizah, bekerja di Direktorat pendidikan TK dan SD Ditjen Dikdasmen, Depdiknas, Program Director untuk Institut Pengembangan
Pendidikan Karakter divisi dari Indonesia Heritage Foundation. *

Anak-anak yang digegas
Menjadi cepat mekar
Cepat matang
Cepat layu…

Pendidikan bagi anak usia dini sekarang tengah marak-maraknya. Dimana mana
orang tua merasakan pentingnya mendidik anak melalui lembaga persekolahan
yang ada. Mereka pun berlomba untuk memberikan anak-anak mereka pelayanan
pendidikan yang baik. Taman kanak-kanak pun berdiri dengan berbagai rupa,
di kota hingga ke desa. Kursus-kursus kilat untuk anak-anak pun juga
bertaburan di berbagai tempat. Tawaran berbagai macam bentuk pendidikan ini amat
beragam. Mulai dari yang puluhan ribu hingga jutaan rupiah per bulannya.
Dari kursus yang dapat membuat otak anak cerdas dan pintar berhitung,
cakap berbagai bahasa, hingga fisik kuat dan sehat melalui kegiatan menari, main
musik dan berenang. Dunia pendidikan saat ini betul-betul penuh dengan
denyut kegairahan. Penuh tawaran yang menggiurkan yang terkadang menguras
isi kantung orangtua …

Captive market

Kondisi diatas terlihat biasa saja bagi orang awam. Namun apabila kita
amati lebih cermat, dan kita baca berbagai informasi di intenet dan lileratur
yang ada tentang bagaimana pendidikan yang patut bagi anak usia dini, maka kita
akan terkejut! Saat ini hampir sebagian besar penyelenggaraan pendidikan
bagi anak-anak usia dini melakukan kesalahan. Di samping ketidak patutan
yang dilakukan oleh orang tua akibat ketidaktahuannya!

Anak-Anak Yang Digegas…

Ada beberapa indikator untuk melihat berbagai ketidakpatutan terhadap
anak.
Di antaranya yang paling menonjol adalah orientasi pada kemampuan
intelektual secara dini. Akibatnva bermunculanlah anak-anak ajaib dengan
kepintaran intelektual luar biasa. Mereka dicoba untuk menjalani
akselerasi
dalam pendidikannya dengan memperoleh pengayaan kecakapan-kecakapan
akademik di dalam dan di luar sekolah.

Kasus yang pernah dimuat tentang kisah seorang anak pintar karbitan ini
terjadi pada tahun 1930, seperti yang dimuat majalah New Yorker. Terjadi
pada seorang anak yang bernama William James Sidis, putra scorang
psikiater.
Kecerdasan otaknya membuat anak itu segera masuk Harvard College walaupun
usianya masih 11 tahun. Kecerdasannya di bidang matematika begitu
mengesankan banyak orang. Prestasinya sebagai anak jenius menghiasi
berbagai media masa. Namun apa yang terjadi kemudian ? James Thurber seorang
wartawan terkemuka. pada suatu hari menemukan seorang pemulung mobil tua, yang tak
lain adalah William James Sidis. Si anak ajaib yang begitu dibanggakan dan
membuat orang banyak berdecak kagum pada bcberapa waktu silam.

Kisah lain tentang kehebatan kognitif yang diberdayakan juga terjadi pada
scorang anak perempuan bernama Edith. Terjadi pada tahun 1952, dimana
seorang Ibu yang bemama Aaron Stern telah berhasil melakukan eksperimen
menyiapkan lingkungan yang sangat menstimulasi perkembangan kognitif
anaknya sejak si anak masih benapa janin. Baru saja bayi itu lahir ibunya telah
memperdengarkan suara musik klasik di telinga sang bayi. Kemudian diajak
berbicara dengan mcnggunakan bahasa orang dewasa. Setiap saat sang bayi
dikenalkan kartu-kartu bergambar dan kosa kata baru. Hasilnya sungguh
mencengangkan! Di usia 1 tahun Edith telah dapat berbicara dengan kalimat
sempurna. Di usia 5 tahun Edith telah menyelesaikan membaca ensiklopedi
Britannica. Usia 6 tahun ia membaca enam buah buku dan Koran New York
Times setiap harinya. Usia 12 tahun dia masuk universitas. Ketika usianya
menginjak 15 lahun la menjadi guru matematika di Michigan State
University.
Aaron Stem berhasil menjadikan Edith anak jenius karena terkait dengan
kapasitas otak yang sangat tak berhingga. Namun khabar Edith selanjutnya
juga tidak terdengar lagi ketika ia dewasa. Banyak kesuksesan yang diraih
anak saat ia mcnjadi anak, tidak menjadi sesuatu yang bemakna dalam
kehidupan anak ketika ia menjadi manusia dewasa.

Berbeda dengan banyak kasus legendaris orang-orang terkenal yang berhasil
mengguncang dunia dengan penemuannya.
Di saat mereka kecil mereka hanyalah anak-anak biasa
yang terkadang juga dilabel sebagai murid yang dungu. Seperti halnya
Einstein yang mengalami kesulitan belajar hingga kelas 3 SD. Dia dicap sebagai anak
bebal yang suka melamun.

Selama berpuluh-puluh tahun orang begitu yakin bahwa keberhasilan anak di
masa depan sangat ditentukan oleh faktor kogtutif. Otak memang memiliki
kemampuan luar biasa yang tiada berhingga. Oleh karena itu banyak orangtua
dan para pendidik tergoda untuk melakukan “Early Childhood Training”. Era
pemberdayaan otak mencapai masa keemasanmya. Setiap orangtua dan pendidik
berlomba-lomba menjadikan anak-anak mereka menjadi anak-anak yang super
(Superkids). Kurikulum pun dikemas dengan muatan 90 % bermuatan kognitif
yang mengfungsikan belahan otak kiri. Sementara fungsi belahan otak kanan
hanya mendapat porsi 10% saja. Ketidakseimbangan dalam memfungsikan ke dua
belahan otak dalam proses pendidikan di sekolah sangat mencolok. Hal ini
terjadi sekarang dimana-rnana, di Indonesia….

“Early Ripe, early Rot…!”
Gejala ketidakpatutan dalam mendidik ini mulai terlihat pada tahun 1960 di
Amerika. Saat orangtua dan para professional merasakan pentingnya
pendidikan bagi anak-anak semenjak usia dini. Orangtua merasa apabila mereka tidak
segera mengajarkan anak-anak mereka berhitung, membaca dan menulis sejak
dini maka mereka akan kehilangan “peluang emas” bagi anak-anak mereka
selanjutnya. Mereka memasukkan anak-anak mereka sesegera mungkin ke Taman
KanakKanak (Pra Sekolah). Taman Kanak-kanak pun dengan senang hati
menerima anak-anak yang masih berusia di bawah usia 4 tahun. Kepada anak-anak ini
gurunya membelajarkan membaca dan berhitung secara formal sebagai pemula.

Terjadinya kemajuan radikal dalam pendidikan usia dini di Amcrika sudah
dirasakan saat Rusia meluncurkan Sputnik pada tahun 1957. Mulailah “Era
Headstart” merancah dunia pendidikan. Para akademisi begitu optimis untuk
membelajarkan wins dan matematika kepada anak sebanyak dan sebisa mereka
(tiada berhingga). Sementara mereka tidak tahu banyak tentang anak, apa
yang mereka butuhkan dan inginkan sebagai anak.

Puncak keoptimisan era Headstart diakhiri dengan pernyataan Jerome Bruner,
seorang psikolog dari Harvard University yang menulis sebuah buku terkenal
“The Process of Education” pada lahun 1960, la menyatakan bahwa kompetensi
anak untuk belajar sangat tidak berhingga. Inilah buku suci pendidikan
yang mereformasi kurikulum pendidikan di Amerika. “We begin with the hypothesis
that any subject can be taught effectively in some intellectually honest
way to any child at any stage of development”.
Inilah kalimat yang merupakan hipotesis Bruner yang di salahartikan oleh
banyak pendidik, yang akhirnya menjadi bencana! Pendidikan dilaksanakan
dengan cara memaksa otak kiri anak sehingga membuat mereka cepat matang
dan cepat busuk… early ripe, early rot!

Anak-anak menjadi tertekan. Mulai dari tingkat pra sekolah hingga usia SD.
Di rumah para orangtua kemudian juga melakukan hal yang sama, yaitu
mengajarkan sedini mungkin anak-anak mereka membaca ketika Glenn Doman
menuliskan kiat-kiat praktis membelajarkan bayi membaca.

Bencana berikutnya datang saat Arnold Gesell memaparkan konsep
“kesiapan-readiness” dalam ilmu psikologi perkembangan temuannya yang
mendapat banyak decakan kagum. Ia berpendapat tentang “biological
limitiions on learning’. Untuk itu ia menekankan perlunya dilakukan intervensi dini
dan rangsangan inlelektual dini kepada anak agar mereka segera siap belajar
apapun.

Tekanan yang bertubi-tubi dalam memperoleh kecakapan akademik di sekolah
membuat anakanak menjadi cepat mekar. Anak -anak menjadi “miniature orang
dewasa “.

Kisah William James Sidis bisa dilihat di sini.


Responses

  1. jadi yang pendidikan seperti apakah yang tepat diterapkan kepada balita sehingga mereka bisa belajar tanpa dipaksakan dan mendapat kan hasil yang baik bagi kehidupan mereka selanjutnya

  2. sampai saat ini pendidikan yang terbaik menurut saya disesuaikan dengan fitrah anak pak.
    seperti apa itu?
    mungkin puisi Kahlil Gibran di posting-an saya ini bisa sedikit memberi gambaran….

    https://untoro.wordpress.com/2006/12/07/renungan-on-children-kahlil-gibran/

  3. Setuju. Jangan bodohi anak2 kita dg mencerdaskan mereka sejak dini.

  4. penulis kan bekerja di diknas. dan secara sadar mewakili kecemasan banyak orang tua termasuk saya mengenai hal ini. kalau bu faizah sempat baca, apakah yang beliau perjuangkan di kementrian diknas ini agar arah pendidikan anak2 kita itu tidak seperti sekarang? saya benar-benar hampir tak percaya, buku-buku dan pelajaran anak saya yang kelas 1 SD itu “tidak nyambung” dengan pikirannya apalagi dunianya.. Indonesia yang aneh


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: