Posted by: untoro | January 8, 2007

Pendidikan Murah Berkualitas, (Masih) Mungkinkah?

Sekolah Hijau (29.08.) Beberapa waktu yang lalu, istri saya bercerita mengenai sulitnya pengadaan pendidikan yang murah, namun berkualitas.Sambil mendengar ceritanya, pikiran saya melayang pada saat saya dan istri berburu informasi taman bermain untuk anak tercinta. Fakta yang saya temukan memang demikian.

Tempat pendidikan (yang saya anggap) berkualitas semuanya berkorelasi positif dengan biaya😦.

Bagi saya, kriteria pendidikan yang berkualitas harus memenuhi beberapa hal berikut:

  1. Sistem pendidikan

    Pendidikan berbasis agama Islam menjadi pilihan. Bukan banjiran hafalan, tetapi penguatan nilai-nilai karakter Islami yang kami tekankan. Keimanan, ketauhidan, kejujuran, ramah, tolong menolong, dan lain-lain.Untuk taman bermain, yang kami harapkan adalah benar-benar bermain sambil belajar, bukan bermain dan belajar, bukan melulu belajar, apalabi belajar sambil main-main😀.

    Sistem pendidikan yang turut melibatkan orang tua secara aktif. Dengan kata lain, orang tua pun turut diingatkan bahwa sekolah bukanlah tempat penitipan anak.

  2. Tenaga pengajar

    Tenaga pengajar yang bersahabat dengan anak dan komunikatif pada orang tua. Pengalaman dan kualifikasi menjadi nilai lebih.

    Tenaga psikolog untuk mengetahui kesiapan, kelebihan dan kekurangan anak sebagai masukan buat orang tua dan pengajar kami rasa perlu.

  3. Fasilitas dan lingkungan

    Tempat bermain yang aman, luas, asri dan hijau selalu menjadi idam-idaman. Fasilitas yang inovatif dan eksploratif saya rasa cukup penting, terutama untuk taman bermain.

  4. Waktu dan frekuensi sekolah

    Untuk taman bermain, 2 atau 3 kali seminggu, masing-masing pertemuan maksimal 4 jam saya rasa cukup.

  5. Jumlah siswa per kelas

    Saya beranggapan jumlah siswa per kelas yang terlalu banyak, membuat tenaga pengajar kesulitan memantau perkembangan anak. Jumlah yang terlalu banyak saya rasa juga berpotensi menimbulkan shock pada anak-anak saat mereka tiba-tiba harus bersama-sama dalam satu tempat.

Dari 5 hal di atas saya coba hubung-hubungkan dengan biaya.

Konsep sistem pendidikan yang dipakai saya pikir akan menentukan 4 elemen sisanya: kualifikasi pengajar yang dibutuhkan, fasilitas yang akan dipakai, lingkungan yang perlu disediakan, waktu dan jumlah siswa.

Contohnya: untuk TK alam, tentunya memerlukan fasilitas-fasilitas dan lingkungan bermain yang lebih variatif dibanding TK biasa.

‘Sialnya’, dari 5 hal di atas, yang bisa dijadikan sumber pemasukan bagi sekolah hanyalah siswa. Semakin sedikit siswa, semakin sedikit pula pemasukan bagi sekolah. Memperbanyak jumlah kelas? Biaya pula! Skak-mat!

Bisa Anda bayangkan bagi sekolah yang mengandalkan pemasukan dari siswa? Tentunya ini melejitkan biaya untuk bersekolah ditempat itu.

Untuk perguruan tinggi, mereka masih mungkin membentuk suatu badan usaha sebagai “mesin pencari  uang”. Bagaimana dengan tingkatan Taman Bermain, Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar?

Subsidi dan donasi menurut saya dapat membantu mewujudkan pendidikan murah berkualitas.

Anda punya pemikiran lain? Sekedar mengurangi kegundahan hati… 😦


Responses

  1. tingkatkan share dana pendidikan dalam APBN.😀
    Jika aplikasi UUD1945 (yang diterjemahkan entah oleh siapa) menyatakan bahwa anggaran pendidikan adalah 20% dari total APBN – perlu dicermati lagi, berapa persen yang memang digunakan untuk pengembangan dan penyediaan sarana dan prasarana pendidikan?

    Sayang, alternatif solusi ini sangat sulit diterapkan – khususnya untuk situasi dan kondisi saat ini.

  2. Sedihnya, pemerintah kayaknya belum sadar pendidikan itu “modal” masa depan bangsa…

    Mungkin mereka menganggap, orang yang ga sekolah juga ada tuh yang sukses…
    pemerintah yang aneh….

  3. Imho, pemerintah mm ga boleh lepas tangan dalam hal alokasi pembiayaan operasional, apalagi menginterferensi ke seluruh kegiatan ajar-mengajar.

    Aq pribadi, keuntungan institusi ato lembaga pendidikan tidak hanya mengambil kapital dari anak muridnya. Tapi kembali ke sdm lagi, justru mereka juga memberikan kontribusi insani ke dalam bentuk lain. Misal menjuarai kompetisi atau turnamen tertentu, diberikan jalur channel jenjang-jenjang pendidikan yang lebih tinggi secara gratis, dan sebagainya.

    Aq rasa teknik subsidi silang ini cukup efektif, jikalau pemerintah dan stake holder sekolah sama-sama mau jujur, terus terang apa adanya, dan punya visi misi yang sama yaitu: mencerdaskan kehidupan bangsa, tanpa embel2 pamrih apapun juga. Dan sangat wajar kalau masyarakat kita buanyak yang masih aga bodoh, karena orang-orang yang duduk di atasnya juga sok pintar seperti aq…. hehehe

  4. Beberapa komunitas mulai sedikit berani untuk mempraktekan homeschooling. Ada berota juga diknas akan mengalokasikan dana bantuan untuk komunitas ini

  5. Problemnya sama dengan yang terjadi pada Taman Kanak-Kanak yang saya miliki. Saya ingin sekali menyediakan sekolah yang cukup bagus tetapi dengan biaya terjangkau. Akhirnya sekolah itu terseok-seok. Kalau ada yang ingin menjalin kerjasama mengembangkan TK Islam di Tangerang, hubungi saya. Terima kasih.

  6. Kayaknya pemerintah tidak mungkin melaksanakan pendidikan murah.
    walaupun ada anggaran APBD 20% untuk pendidikan, yang sekarang ada adalah program BOS dan internet ke pelosok. yang bertujuan bukan memurahkan pendidikan namun membantu dalam penyediaan prasarana pendidikan. sebenarnya masyarakat membutuhkan biaya pendidikan yang murah, selain prasarana yang lengkap dan murah. inti dari masalah masyarakat adalah tingginya uang masuk sekolah dan kenaikan kelas serta uang SPP. seharusnya pemerintah memikirkan kesitu. namun jangan dilupakan juga nasib guru.

  7. pemerintah harus pinter mencari pemasukan negara selain pajak. misalkan dari perdagangan non-barang semisal saham dan mata uang. hal tersebut tidak membutuhkan brang untuk dijual tapi murni kemampuan dagang.
    kalau uang sudah masuk, pemerintah (dan negara) tidak akan “gopoh” kalau ada kenaikan harga komoditi dunia.

  8. Saya hanya melihat ini berasal dari frame berfikir kita yang segala sesuatunya harus dilembagakan dan diformalkan, termasuk pendidikan anak kita.
    Akibatnya kita sendiri yang mengidentikkan pendidikan = sekolah. JAdinya semua arah pikiran kita berasal dari titik tolak ini.
    Pandangan saya walaupun anak kita belajar di sekolah, tapi kendali ada pada ortu, subjek tetap pada si anak. Bahasa saya, jadilah keluarga yang ber homeschooling, walau anak di sekolahkan.

    Saya sebagai ortu yang masih belajar jadi ortu. termasuk belajar mendidik anak. Anak saya empat
    Anak pertama, Playgrup, dilanjut TKIT, masuk SDIT, kellelahan belajar, keluar utk Homeschooling murni, skrng atas keinginan sendiri pindah ke SD negeri di pedesaan yang jauh dari hiruk pikuk sambil ikut madrasah. Alhamdulillah betah saja tuh walau jauh dari ortu dan jauh dari Mall. Dia punya rencana kelas 5 mau ber HS lagi di rumah.
    Anak kedua, TKIT dan dilanjut SDIT
    Anak ketiga, rencanananya mau HS & tidak dimasukan ke TK karena sudah puas dengan perkembangan alamiah di rumah, dia ceria & bicaranya cerdas serta tidak ada hal menghawatirkan, khawatir kalau masuk TK keceriaannya hilang karena tugas-tugas sekolah yang terlampau membebani
    Anak ke empat, masih bayi
    Mohon doa dari blogger semua ya

  9. saya mau memperkenalkan salah satu alternatif pendidikan murah tapi bermutu tinggi dengan Indismart. Indismart adalah media pembelajaran online interaktif untuk pelajar SD hingga SMA. Indismart telah digunakan oleh 17.500 sekolah di Indonesia dan penguna individual lainnya. Kunjungi www indi-smart dot com dan bergabunglah segera

  10. Saya rasa seharusnya pendidikan berkualitas dengan biaya yang terjangkau untuk masyarakat dari berbagai latar belakang dapat diwujudkan. Namun, harus ada inisiatif dari pemerintah untuk memprioritaskan pendidikan sebagai bekal untuk kemajuan dan perkembangan bangsa. Banyak tokoh-tokoh masyarakat dan pengusaha-pengusaha besar di dunia yang kita kenal sekarang berasal dari sekolah negeri (public school) yang biasanya bebas dari biaya di negara-negara barat seperti Amerika Serikat.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: