Posted by: untoro | February 12, 2007

IPD – Invasive Pneumococcus Diseases

SEM micrograph of S. pneumoniae. Pneumococcus adalah salah satu jenis bakteri yang dapat menyebabkan infeksi serius seperti pneumonia (radang paru), meningitis (radang selaput otak), dan infeksi darah (sepsis).

Penyakit lain yang dapat ditimbulkan yaitu infeksi telinga dan bronkitis.

Sebenarnya ada sekitar 90 jenis kuman pneumokokus, tetapi hanya sedikit yang bisa menyebabkan penyakit gawat. Bentuk kumannya bulat-bulat dan memiliki bungkus atau kapsul. Bungkus inilah yang menentukan apakah si kuman akan berbahaya atau tidak.

Penularan

  • Infeksi pneumokokus disebabkan bakteri streptococcus pneumoniae yang tinggal di saluran hidung dan tenggorokan manusia. Bakteri ini menular lewat pernapasan.Saat batuk, bersin atau berbicara, kuman ini bisa berpindah pada orang lain lewat udara. Lebih sulit lagi, manusia dapat menjadi carrier. Meskipun tampaknya sehat-sehat saja, belum tentu saluran napas bersih dari kuman pneumokokus. Jadi, siapapun bisa menularkan kuman ini.
  • Makan atau minum bersama penderita dari piring atau gelas yang sama.
  • Memakai handuk, memegang bekas tisu yang baru dipakai membersihkan hidung.
  • Penderita meningitis masih akan menularkan penyakitnya selama mereka masih menunjukkan gejala penyakit tersebut. Bahkan, penderita meningitis yang penyebabnya bakteri, masih dapat menularkan penyakitnya sekiter 24 jam setelah mereka diberi antibiotik.

Bila sistem kekebalan tubuh sedang turun atau mengalami gangguan, orang dapat terjangkit kuman baru dari luar. Lagipula, kuman yang sudah ada dalam keadaan tenang-tenang saja di tenggorok dapat berubah menjadi ganas. Akibatnya kuman menembus pembuluh darah dan beredar di seluruh tubuh. Keadaan kuman beredar di seluruh tubuh disebut sebagai bakteremia. Akhirnya, kuman menyerang paru-paru dan menyebabkan pneumonia, menyerang lapisan selaput otak dan menyebabkan meningitis.

Yang Beresiko

  • Anak-anak berumur kurang dari dua tahun dan orang tua berumur lebih dari 65 tahun berisiko sakit radang paru-paru karena pneumokokus 50 kali lipat lebih tinggi.
  • Bayi dan anak berumur kurang dari 2 tahun belum memiliki sistem kekebalan tubuh yang sempurna.
  • Bayi yang lahirnya kembar, atau yang lahir dengan berat badan rendah (BBLR) maupun prematur.
  • Anak-anak berumur lebih dari 2 tahun sudah memiliki kekebalan tubuh cukup baik, tetapi tetap mempunyai risiko karena mereka sudah mulai bebas bermain di luar rumah dan bertemu dengan orang banyak.
  • Orang yang punya kelainan pada saluran napasnya juga lebih mudah mengalami pneumonia akibat pneumokokus.
  • Orang dengan daya tahan tubuh menurun akibat penyakit AIDS dan penyakit kekurangan sel darah putih.

Pencegahan

  • Imunisasi
    Lakukan imunisasi HiB (Haemophilus Influenzae Type B) atau PCV (Pneumococcal Conjugate Vaccine).
    Dua tipe imunisasi ini sudah dimasukkan dalam jadwal imunisasi yang dianjurkan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) periode 2006.Khusus untuk PCV yang baru diperkenalkan tahun 2006, masih ada pertanyaan apakah vaksin yang ada sudah sesuai dengan serotype yang ada di Indonesia. Penelitian masih terus dilakukan untuk menghasilkan vaksin yang benar-benar efektif dan efisien sehingga harga pun dapat ditekan (saat ini harga vaksin sekitar 800rb – 1juta).

    Dari yang saya lihat di http://www.vaccinesafety.edu/thi-table.htm, vaksin-vaksin yang ada tidak mengandung thimerosal. Misal ActHib untuk HiB, Prevenar dan Pneumovax 23 (Pneumo23) untuk PCV.

    Untuk vaksin PCV, jadwal pemberian adalah sebagai berikut:

    • < 6 bulan: diberikan dasar 3 kali jarak 2 bulan dan penguat/ulangan (booster) pada usia 12 – 15 bulan. Total 4 kali.
    • 6 – 12 bulan diberikan dasar 2 kali, dan penguat seperti diatas. Total 3 kali.
    • 12 – 24 bulan . Diberikan dasar 2 kali tidak perlu penguat. Total 2 kali.
    • > 24 bulan. Diberikan 1 kali. Total 1 kali.

    Dari artikel yang saya baca (Info vaksin terbaru untuk Mama bijak, Parenting Indonesia, Oktober 2006), pada pemberian vaksin PCV:

    • 1 dari 4 bayi akan kemerahan kulitnya atau bengkak di tempat bekas suntikan
    • 1 dari 3 bayi demam ringan
    • 1 dari 50 bayi demam di atas 38,9 ºC
    • Beberapa bayi akan rewel, mengantuk, atau hilang selera makan
  • Jaga kebersihan dengan mencuci tangan yang bersih, terutama sebelum makan
  • Hindari kontak dengan seseorang yang sedang tampak sakit
  • Hindari berbagi makanan atau minuman dari piring atau gelas yang sama
  • Setelah segala ikhtiar sudah dilakukan, serahkan segala urusan pada Yang Kuasa. Tidak ada daya dan kekuatan, kecuali atas pertolongan-Nya.

Pengobatan

Bila terkena pneumonia atau meningitis, pengobatan satu-satunya adalah antibiotika. Sayangnya, sebagian besar antibiotika sudah tidak mempan lagi terhadap pneumokokus. Selain itu, mendeteksi infeksi kuman pneumokokus juga tak begitu mudah karena belum ada alat yang cepat dan canggih. Inilah yang menjadi masalah mengapa pneumokokus lebih baik dihindari dibandingkan diobati.

Dengan penanganan yang maksimal, meningitis yang disebabkan bakteri dapat sembuh sekitar 3 minggu (artikel 7 Penyakit Anak yang Harus diwaspadai Sekarang – Ayahbunda No. 03 Februari 2007). Usahakan si kecil banyak mengkonsumsi cairan, dan istirahat.

Sumber:


Responses

  1. ya betul

  2. apa akibat dari meningitis?

  3. makasih buat infonya………..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: