Posted by: untoro | April 18, 2007

Efek Buruk Pujian bagi Anak

Puzzled Seberapa sering Anda memuji anak Anda?

Setiap saat? Sama🙂.

Selama ini kita berkeyakinan bahwa pujian tersebut akan meningkatkan harga diri – self-esteem – dan memotivasi si anak.

Berdasarkan survey yang dilakukan Columbia University, 85% orang tua di Amerika berkeyakinan bahwa mengatakan pada anak bahwa mereka cerdas adalah hal yang penting.

Ya, semua terbiasa melakukannya.

Bagaimana jika dikatakan pada Anda bahwa membiasakan memberi label “cerdas”, “pintar” pada anak bukannya menghindari mereka dari underperform, tetapi malah menyebabkannya?

Penelitian yang dilakukan Carol Dweck dan timnya selama sepuluh tahun terakhir menunjukkan hal tersebut.

Dalam penelitian tersebut, sekelompok siswa kelas-5 New York diberi 4 rangkaian tugas menyelesaikan puzzle.

Tugas pertama yaitu menyelesaikan puzzle yang amat mudah. Setelah menyelesaikan tugas, satu kelompok diberi pujian atas kecerdasannya sementara kelompok anak yang lain diberi pujian atas usahanya.

Kelompok yang pertama diberi pujian dengan kata-kata “Kamu cerdas sekali” sedangkan kelompok yang lain dipuji dengan “Kerja kerasmu luar biasa“.

Untuk tugas kedua, mereka diberi 2 pilihan: puzzle yang sama mudahnya atau yang lebih sulit, namun dikatakan pada mereka bahwa mereka akan dapat belajar banyak dalam menyelesaikan puzzle yang sulit itu.
90% dari kelompok anak yang dipuji atas usahanya memilih tugas yang lebih sukar sementara mayoritas kelompok anak yang dipuji cerdas memilih tugas yang mudah.

Anak “cerdas” menghindari tantangan. Mereka lebih memilih tampil sebagai anak cerdas dan menghindari resiko tampak bodoh atau memalukan.

Untuk tugas ke-3, kedua kelompok tidak diberi pilihan dan diharuskan menyelesaikan puzzle yang sulit, tampak sekali ketegangan pada kelompok anak “cerdas”, mereka kikuk dan berkeringat. Pada kelompok yang dipuji atas usahanya malah tampak semakin keras usaha mereka.

Pada tugas terakhir, kedua kelompok kembali diberi puzzle yang mudah seperti pada tugas pertama. Terjadi peningkatan nilai pada kelompok anak yang dipuji akan usahanya sebanyak 30%, sementara secara mengejutkan, terjadi penurunan nilai pada kelompok anak “cerdas”.

Anak “cerdas” mengasumsikan bahwa kegagalan hanya akan membuktikan bahwa mereka sama sekali tidak cerdas. Mereka tidak dapat merespons kegagalan secara baik/positif. Kegagalan menyebabkan mereka menjadi ter-demotivasi.

Selain pada siswa kelas 5, beberapa penelitian ulang dilakukan pula pada tingkatan-tingkatan lain dan memberi hasil yang sama. Bahkan disebutkan, anak pra-sekolah pun tidak lepas dari efek buruk pujian.

Tindak lanjut dari hasil penelitian ini sungguh luar biasa. Pada tahun 2003, Association for Psychological Science meminta Dr. Roy Baumeister (salah satu tokoh pendukung teori self-esteem) untuk mereview lebih dari 15.000 artikel keilmuan dari tahun 1970-2000 mengenai self-esteem dan hubungannya terhadap segala sesuatu.
Dari sekitar 15.000 artikel tersebut ternyata hanya 200 yang memenuhi standar ketat yang ditetapkan Baumeister dan tim.

Dari 200 penelitian tersebut, Baumeister menyatakan bahwa self-esteem yang tinggi ternyata tidak meningkatkan pencapaian karir, bahkan tidak dapat mengurangi ketergantungan pada alkohol. Sikap agresivitas yang tinggi, yang selama ini dianggap untuk menutupi self-esteem yang rendah ternyata salah. Orang yang melakukan tindak kekerasan seringkali malah merasa dirinya memiliki self-esteem yang tinggi.

Bagaimana pujian yang memberi efek positif?

Dari artikel-artikel yang saya baca, pujian akan efektif bila

  • Spesifik, menjelaskan apa yang kita hargai. Jangan hanya pujian kosong.
  • Beri pujian terhadap apa yang dilakukan, usaha dan kerja keras mereka
  • Beri pujian dengan tulus. Beri perhatian sejenak pada mereka saat memberi pujian.

Apakah penelitian ini sudah terbukti dan dapat dipertanggungjawabkan?

Wallahu’alam. Saya tidak tahu. Waktu yang akan membuktikan kebenarannya.

Namun kami mulai berusaha memulai memberi pujian yang semoga dapat bermanfaat baginya dan terus terang, itu tidak semudah kelihatannya.

Pujian berikut pun mulai kerap terdengar di rumah kami….

“Wah…Iyya cepat sekali minum susunya…”
“Woowww…lihat Mah, Iyya nendang bolanya keras banget…”

Sumber


Responses

  1. wah terima kasih buat infonya…ya memang dalam mendidik anak terkadang sesuatu yang kita sebut baik, ternyata bisa berdampak sebaliknya untuk anak🙂
    walopun say belum punya anak tapi ini bekal yang sangat bagus seklai untuk saya kedepannya hehe

  2. wah, nice artikel mas bambang….hehehe…saya sih masih bujang tapi suatu saat pasti jadi ayah juga.

  3. Wah,,artikelnya ngebuka mata n pikiran!!!
    Bagus bgt!!!
    jd punya trik bwt nanti kLo udh punya anak. hehe..

  4. saya ingin coba ke anak-anak juga ni,penasaran!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: